Hati Seorang Ustadz

Agustus 27, 2010 at 6:58 pm 2 komentar

Hari itu duka menyelimuti keluargaku, kakak pertamaku [almarhumah Mbak Ik_biasa kami memanggilnya] meninggal dunia, kembali ke hadlirat Ilahi…., sebuah kepastian yg akan terjadi pada setiap manusia, innalillahi wa inna ilahi roji’un.

Tapi bukan hal ini yang ingin aku ceritakan, aku akan bercerita tentang ustadz Miftah. Beliau adalah salah satu dari sekian guru ngaji di desaku.

Hari itu, di areal pemakaman, tepatnya di atas makam kakakku. Semua prosesi pemakaman telah selesai, dari memasukkan jenazah sampai pembacaan do’a, para pelayat pun sudah bergerak meninggalkan makam, aku dan anggota keluargaku yang lain juga sudah selesai menaburkan bunga di pusara almarhumah, pun telah selesai mendo’akannya.

Tetapi…, ternyata masih ada 1 orang yang masih mendo’akan, dengan sungguh-sungguh. Beliau adalah ustadz Miftah, kemudian beliau memeluk Bagus [keponakanku] sembari menasihati agar shabar.

Aku langsung terkesiap, malu rasanya diriku. Aku yang selama ini dianggap kakak sebagai anaknya, disayangi bahkan kadang melebihi sayangnya pada anaknya sendiri…do’aku untuknya standar saja, sama seperti orang lain pada umumnya. Padahal do’a itu tentu akan sangat berarti bagi kakakku di alam kubur sana.

Hati seperti apa yang kau miliki ustadz?

Keluarga kami, atau kakakku pun hanyalah keluarga jawa muslim biasa, bukan dari kalangan santri…tetapi begitu tulus dan sungguh-sungguhnya do’amu.

Atau kau sedang mengajari kami… beginilah perilaku seorang da’i kepada masyarakatnya; tak pernah lelah mengingatkan, tak pernah lelah mendo’akan, tak pernah lelah mengajak menyembah hanya kepada Allah saja, dari kami lahir [atau bahkan semasa di kandungan] sampai ke liang lahat kami. Kau tak pernah berhenti mendo’akan….

Hati seperti apa yang kau miliki ustadz?

Aku juga masih ingat, saat itu aku kelas 1 sma. Seperti biasa di momen 17 agustus-an, di desa sebelah ada pentas dangdut, penyanyinya: Ambar Asmara_penyanyi paling seronok yang terkenal di pekalongan dan sekitarnya saat itu.

[sebuah ironi bukan? hari kemerdekaan malah disyukuri dengan hal-hal negatif, ampuni kami Ya Rabb…]

Seperti biasa di pengajian rutin ba’da maghrib, kau seolah tahu apa yang ada di pikiran kami para muridmu; kau kuatir bahwa kami akan menonton pentas dangdut itu. Pentas yang akan merusakkan akhlak kami yang telah kau bina dengan susah payah, rusak dalam satu malam saja.

Kau pun menasihati kami…, tapi kau tak melarang kami untuk menonton. Kau hanya bilang, “nanti kalo nonton dangdut-an, setelah sampai rumah segera berwudhu, sholat, membaca Al Qur’an dan beristighfarlah…”.

Wajah-wajah kami pun tertunduk, malu…kau seolah tahu hati kami, di usia muda kalo kami dilarang malah akan memberontak.

Hati apa yang kau miliki ustadz? Ajari kami…ajari kami… agar memiliki hati sepertimu. Agar kami bahagia dunia akhirat.

“nawir qulubana ya Allah kal qalbi rasulika ya Allah….aamiin”

NB:

Aku sering merenungkan mereka: para ustadz di desaku. Bagaimana keshabaran mereka? Mengajarkan Islam tanpa digaji sepeserpun, tidak satu-dua hari, tiap hari. Menghadapi masyarakat yang beranekaragam dengan pemahaman terbatas, belum mereka yang berjudi, minum, main perempuan. Belum lagi fitnah materialisme yang melihat harta sebagai simbol kesuksesan, bukan ketakwaan.

Tapi mereka shabar, tetap mendakwahi masyarakat tanpa merasa bahwa mereka lebih baik dari orang lain. Mereka bersyukur bahwa Allah telah melimpahkan kebaikan yang banyak; ilmu agama, kesempatan untuk turut mendakwahkan agama Allah. Mereka bersyukur….bahwa semua nikmat itu adalah anugerah Allah yang sangat berharga.

sebuah wujud syukur dan shabar yang teruji

sudah shabar dan syukurkah kita?

engkau telah mendidik kami

Setiap hari dari Maghrib sampai jam 8 malam

Terus sepanjang usiamu

Tanpa jasa tanpa gaji

Sabarmu pada kami tak pernah habis

Padahal kami badung

Dan kami juga bukan anakmu

Tapi kau cinta

Karena itu kau mendidikku, mendidik kami

Mengamalkan ilmumu tak kenal lelah

“Rabbanaghfirlana wa-li-ustadzina”

Iklan

Entry filed under: rehat sejenak.... Tags: , .

6 Hal Penyebab Penyakit Hati

2 Komentar Add your own

  • 1. centra pulsa  |  Desember 26, 2010 pukul 2:47 am

    nice artikel sob,syang nya sudah semakin sdikit ustad ygn memiliki kepribadian seperti usatad miftah.mudah2an beliau selalu mendapat rohmat dan hidayah dari Allah SWT

    Balas
  • 2. vina  |  Agustus 13, 2011 pukul 12:41 am

    Subhanaalloh……………….
    Semoga di dunia ini masih banyak hati2 yang mengedepankan kebersamaan dan semangat juang agar senantiasa mendapatkan cahaya 2 Ilahy

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Agustus 2010
S S R K J S M
« Jul    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Blog Stats

  • 32,136 hits

%d blogger menyukai ini: