Menyambut Ramadhan 1431 H

Juli 20, 2010 at 1:16 pm 1 komentar

“Allahumma bariklana fi Sya’ban wa balighna Ramadhan”

Alhamdulillah sebentar lagi insya Allah kita akan masuk ke bulan Ramadhan yang penuh berkah. Tentu kita ingin Ramadhan tahun ini harus lebih baik dari tahun kemarin. Marilah sejenak kita kembali membaca “ilmu” terkait dengan Ramadhan dan ibadah puasa.

Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi Rahimahullah mencatat beberapa riwayat terkait ibadah puasa dan bulan Ramadhan. Di antaranya adalah :

  1. 1. Abu Hurairah ra. Berkata, Rasulullah SAW bersabda “Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Setiap amal perbuatan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa, karena puasa adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.’ Puasa itu adalah perisai. Jika seseorang dari kalian berpuasa, maka jangan berkata kotor dan buruk. Jika seseorang memakinya atau memancing untuk bertengkar, hendaklah ia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’ Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, bagi Allah, bau mulut orang yang sedang berpuasa lebih harum daripada bau minyak kesturi. Orang yang berpuasa mengalami dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika bertemu Tuhannya karena puasa (Muttafaq ‘alaih). Dalam riwayat Bukhari yang lain disebutkan, “Ia meninggalkan makan, minum, dan kesenangan syahwatnya demi Aku. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat.”

  1. 2. Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa bershadaqah dua ekor kuda di jalan Allah, maka ia dipersilahkan masuk surga melalui semua pintu surga (seraya disapa), ‘Hai hamba Allah, inilah yang baik.’ Barangsiapa yang termasuk golongan orang-orang yang mengerjakan sholat maka ia dipersilahkan masuk surga melalui pintu ‘sholat’. Barangsiapa yang termasuk golongan orang-orang yang berjihad maka ia dipersilahkan masuk surga melalui pintu ‘jihad’. Barangsiapa yang termasuk golongan orang-orang yang berpuasa maka ia dipersilahkan masuk surga melalui pintu ‘Ar Rayyan’ (kesegaran). Barangsiapa yang termasuk golongan orang-orang yang bershadaqah maka ia dipersilahkan masuk surga melalui pintu ‘shadaqah’.” Abu Bakar ra. Berkata, “Demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah, dari pintu mana saja tidaklah masalah. Lantas adakah orang yang dipanggil dari semua pintu itu?” Beliau menjawab, “Ada, dan aku berharap kamu termasuk di antara mereka”. (Muttafaq ‘alaih)

  1. 3. Abu Sa’id Al-Khudriy ra. Berkata Rasulullah SAW. Bersabda, “Tidaklah seorang hamba berpuasa satu hari karena Allah, melainkan Allah akan menjauhkan dirinya dari neraka sejauh perjalanan tujuh puluh tahun.” (Muttafaq ‘alaih)

  1. 4. Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala kepada Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (Muttafaq ‘alaih)

  1. 5. Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Jika Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan diikat kuat.” (Muttafaq ‘alaih)

  1. 6. Ibnu Abbas ra. Berkata, “Rasulullah adalah orang yang paling pemurah, lebih-lebih pada bulan Ramadhan ketika ditemui Jibril. Setiap malam di bulan Ramadhan, Jibril datang untuk membacakan Al Qur’an. Saat ditemui Jibril, Rasulullah saw. Lebih pemurah daripada angin yang bertiup.” (Muttafaq ‘alaih)

  1. 7. Aisyah ra. Berkata, “Apabila sudah masuk 10 hari terakhir Ramadhan, Rasulullah selalu menghidupkan malam (dengan beribadah), membangunkan keluarganya dan mengikat sarungnya (tidak menggauli istrinya).” (Muttafaq ‘alaih)

  1. 8. Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan bohong dan melakukan kebohongan, maka Allah tidak membutuhkan dia meskipun meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari)

Menurut Ust. Sa’id Hawwa dalam kitab Tazkiyatun-Nafs (Intisari Ihya’ Ulumuddin Al-Ghazali), ibadah puasa dalam Tazkiyatun-nafs menduduki derajat ketiga setelah shalat dan zakat, karena di antara syahwat besar yang bisa membuat manusia menyimpang adalah syahwat perut dan kemaluan. Sedangkan puasa merupakan pembiasaan terhadap jiwa untuk mengendalikan kedua syahwat tersebut. Oleh sebab itu puasa merupakan factor penting dalam tazkiyatun-nafs.

Jika kesabaran termasuk kedudukan jiwa yang tertinggi maka puasa merupakan pembiasaan jiwa untuk bershabar. Dalam sebuah hadits disebutkan :

“Puasa adalah separuh keshabaran.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah, hadits hasan)

Allah telah menjadikan puasa sebagai sarana untuk mencapai derajat taqwa (QS. 2:183). Taqwa adalah tuntutan Allah kepada para hamba. Taqwa sama dengan tazkiyatun-nafs (Asy-Syams:7-10).

Berikut penjelasan Imam Ghazali terkait ibadah puasa :

Rahasia Puasa dan Syarat-syarat Batinnya

Ketahuilah bahwa puasa ada tiga tingkatan:

  1. Puasa orang awan : menahan perut dan kemaluan dari memperturutkan syahwat
  2. Puasa orang khusus : menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan semua anggota badan dari dosa
  3. Puasa orang super khusus : puasa hati dari berbagai keinginan yang rendah dan pikiran-pikiran yang tidak berharga; juga menahan hati dari selain Allah secara total, dan puasa ini “batal” karena fikiran selain Allah dan hari akhir; karena fikiran tentang dunia kecuali dunia yang dimaksudkan untuk agama karena dunia yang dimaksudkan untuk agama sudah termasuk bekal akhirat dan tidak lagi dikatakan sebagai dunia. Ini merupakan tingkatan para Nabi, Rasul, Shiddiqin dan Muqarrabin.

Puasa orang khusus adalah puasa orang-orang shalih yaitu menahan anggota badan dari berbagai dosa. Sedang kesempurnaannya ialah dengan 6 perkara:

  1. Menundukkan pandangan dan menahannya dari berkeliaran memandang ke setiap hal yang dicela dan dibenci, ke setiap hal yang bisa menyibukkan hati dan melalaikan dari dzikrullah.
  2. Menjaga lisan dari bualan, dusta, ghibah, gunjingan, kekejian, perkataan kasar, pertengkaran, dan perdebatan; mengendalikannya dengan diam; menyibukkannya dengan dzikrullah dan tilawah Al Qur’an. Itulah puasa lisan
  3. Menahan pendengaran dari mendengarkan setiap hal yang dibenci karena setiap yang diharamkan perkataannya diharamkan pula mendengarknnya.
  4. Menahan berbagai anggota badan lainnya dari berbagai dosa, seperti menahan tangan dan kaki dari hal-hal yang dibenci, menahan perut dari berbagai syubhat pada waktu tidak puasa. Tidak ada artinya berpuasa, yaitu menahan makanaan yang halal, kemudian berbuka puasa dengan yang haram.
  5. Tidak memperbanyak makanan yang halal pada saat berbuka puasa sampai penuh perutnya. Karena tidak ada wadah yang paling dibenci Allah selain perut yang penuh dengan makanan halal. Bagaimana puasanya bisa bermanfaat untuk menundukkan musuh Allah dan mengalahkan syahwat jika orang yang berpuasa itu pada saat berbuka melahap berbagai macam makanan untuk mengganti berbagai makanan yang tidak boleh dimakannya di siang hari?
  6. Hendaknya setelah berbuka hatinya”tergantung” dan “terguncang” antara harap dan cemas, sebab ia tidak tahu apakah puasanya diterima atau ditolak. Hendaklah hatinya dalam keadaan demikian di akhir setiap ibadah yang baru saja dilaksanakan.

Selain hal-hal diatas, penting bagi kita untuk mengetahui beberapa hukum fiqh terkait permasalah di seputar ibadah puasa Ramadhan. Saya  kutipkan beberapa “fiqh puasa” dari situs syariahonline.com [yang telah dikompilasi dalam file .chm].

(1)

Sunnah Berjamaah Dalam tarawih

Shalat tarawih pada bulan Ramadhan dengan berjamaah mengikuti satu imam adalah sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah RA:

Sesungguhnya Nabi SAW shalat di masjid lalu orang-orang ikut shalat bersama mengikuti beliau, lalu pada malam kedua beliau shalat lagi dan orang-orang sudah banyak (yang ikut), kemudian orang-orang berkumpul pada malam ketiga atau keempat, tapi Rasulullah SAW tidak keluar menemui mereka. Ketika sudah pagi beliau bersabda: “Saya sudah melihat apa yang kalian lakukan, tidak ada yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian kecuali karena aku takut kalau (shalat tarawih) itu diwajibkan atas kamu semua”. (Muttafaq Alaih).

Dan para ulama sepakat bahwa kejadian itu terjadi pada bulan Ramadhan. Ada juga hadits yang diriwayatkan oleh Abdur Rahman bin ‘Abd Al-Qari, beliau berkata:

Suatu ketika saya keluar bersama Umar bin Khatthab pada bulan Ramadhan ke masjid ternyata orang-orang berpencar-pencar terpisah; Ada yang shalat sendirian, ada yang shalat lalu diikuti oleh beberapa orang, lalu Umar berkata: Saya punya pendapat seandainya saya dapat mengumpulkan mereka dengan satu imam tentu akan lebih baik, kemudian beliau bertekad untuk mengumpulkan mereka dengan imam Ubay bin Ka’ab. Kemudian saya keluar lagi brsama beliau pada malam yang lain, dan orang-orang sedang shalat berjamaah dengan mengikuti satu imam. Lalu Umar berkata: “Inilah bid’ah yang bagus, dan orang-orang yang tidur lebih baik dari pada yang ikut shalat malam ini (maksud beliau yang tidur di sore hari untuk bangun shalat tarawih di akhir malam), dan orang-orang saat itu shalat dipermulaan malam”. (HR. Bukhari).

Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa shalat tarawih dari dahulu dilakukan dengan berjamaah, yaitu sejak masa pemerintahan Umar bin Khattab hingga sekarang ini. Shalawa tarawih berjamaah hanya sempat berhenti selama akhir masa hayat Rasulullah dan masa khilafah Abu Bakar yang hanya 2 tahunan itu.

Namun tidak apa-apa bagi anda untuk shalat tarawih di rumah karena tarawih itu sunnah, tapi jika anda shalat bersama imam di masjid tentu lebih utama sesuai dengan ajaran Nabi SAW kepada para sahabatnya ketika beliau shalat bersama mereka beberapa malam hingga sepertiga malam, ada salah satu sahabat yang mengusulkan kepada beliau:

“Seandainya engkau memberikan tuntunan shalat sunnah untuk sisa malam kita ini”. Akhirnya Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang shalat bersama imam sehingga imam tersebut pergi (selesai shalat) maka Allah akan menulis bagi (ma’mum) tersebut shalat semalam suntuk”.

(HR. Ahmad dan Ashabus Sunan dengan sanad hasan, dari hadits Abu Dzar RA)
Pembagian Rakaat Tarawih

Yang paling masyhur adalah dengan mengerjakan dua rakaat dan salam. Sedangkan hadits yang menyebutkan empat rakat itu banyak dipahami sebagai empat rakat tapi diselingin salam. Jadi setelah melakukan shalat empat rakaat dengan dua salam, ada jeda waktu untuk sekedar istirahat. Baru kemudian diteruskan dengan empat rakaat lainnya tapi tetap dengan dua salam.

Tapi memang ada sebagian yang melakukannya dengan 4 raka’at sekaligus tanpa salam. Dalam hadits Bukhari riwayat ‘Asiyah ra dijelaskan bahwa cara Rasulullah SAW menjalankannya shalat malam adalah dengan melakukan tiga kali salam masing-masing terdiri dari 4 rakaat yang sangat panjang ditambah dengan 4 rakat yang panjang pula ditambah 3 rakaat sebagai penutup.

Namun untuk dua rakaat, dasarnya adalah hadits dari Ibnu Umar ra yang menceritakan bahwa seorang shahabat bertanya kepada Rasulullah SAW tentang cara Rasulullah SAW mendirikan shalat malam beliau menjawab :

“Shalat malam didirikan dua rakaat-dua rakaat. Jika dia khawatir akan tibanya waktu shubuh, maka hendaklah menutupnya dengan satu rakat”. (Muttafaq ‘alaih ? Lihat Al-Lu?lu? wal Marjan : 432).

Hal ini ditegaskan fi’liyah Rasulullah SAW dalam hadits Muslim dan Malik ra (Lihat Syarh Shahih Muslim 6/46-47;Allah SWT;-Muwaththa dalam Tanwir : 143-144).

Dengan demikian shalat malam termasuk tarawih dapat didirikan dengan dua rakaat dan ditutup dengan satu raka’at atau tiga raka’at dua kali salam atau empat raka’at-empat raka’at dan ditutup dengan tiga rakaat.

Shalat Tarawih Dan Malamnya Tahajud

Umumnya para ulama membedakan shalat tawarih dan tahajjud. Namun sebagian pendapat dari kalangan ulama memang ada yang menyamakan shalat tahajjud dengan shalat tarawih. Yang membedakannya menurut mereka hanyalah penamaannya saja. Yaitu bila di dalam bulan Ramadhan dinamakan dengan tarawih dan bila di luar ramadhan dinamakan dengan tahajjud atau qiyamullail.

Dasar pendapat mereka adalah keterangan dari hadits ‘Aisyah bahwa shalat malamnya Rasulullah SAW itu tidak lebih dari 11 rakaat baik di dalam ramadhan ataupun di luar ramadhan.

Dari Aisyah ra bahwa Rasulullah SAW tidak pernah menambah di dalam ramadhan dan di luar Ramadhan dari 11 rakaat. (HR. Bukhari).
Sedangkan menurut jumhur (mayoritas) ulama, ada perbedaan antara shalat tarawih dan shalat tahajjud dari segala sisinya. Tidak sebagaimana kalangan yang kami sebutkan, jumhur ulama mengatakan bahwa shalat tarawih memang sebuah jenis ibadah shalat sunnat khusus yang dilakukan hanya di bulan ramadhan dan dikerjakan setelah selesai shalat Isya’ berjamaah di masjid.

Sedangkan tahajjud adalah shalat sunnah yang dilakukan pada bulan ramadhan dan juga di luar bulan ramadhan. Dilakukan setelah bangun malam, artinya harus didahului dengan tidur sebelumnya. Melakukan shalat tarawih setelah shalat Isya’ sebanyak 23 rakaat di masa Umar ra adalah ijma’ para shahabat. Tidak ada seorang pun shahabat Rasulullah SAW yang menolaknya sehingga bisa dikatakan bahwa jumlah rakaat yang 23 itu merupakan ijma’ shahabat.

Dengan adanya kepastian riwayat tentang jumlah rakaat tarawih yang dilakukan oleh semua shahabat, maka kebanyakan ulama mengatakan bahwa rakaat tarawih itu adalah shalat khusus di bulan ramadhan selepas shalat isya’ dengan 23 rakaat.

Namun ada juga yang mengatakan bahwa shalat bahwa shalat tarawih itu dilakukan dengan 11 rakaat meski tetap dilakukan selepas shalat Isya. Dalilnya adalah hadits berikut ini

Dari Malik dari As-Saib bin Yazid berkata,Umar memerintahkan kepada Ubay bin Kaab dan Tamim Ad-Dary untuk mengimami orang-orang shalat tarawih dengan 11 rakaat. Terkadang imam membaca ratusan ayat sehingga kami bertekan pada tongkat saking lamanya. Kami tidak selesai dari shalat itu kecuali menjelang fajar.


Bahkan penduduk Madinah di masa lalu pernah mengerjakan shalat tarawih lebih dari 23 rakat. Yaitu mereka mengerjakan 36 rakaat terutama di masa Umar Bin Abdul Aziz.

Namun para ulama mengatakan bahwa 36 rakaat itu hanya berlaku buat penduduk Madinah saja karena mereka punya hak bermunafasah (bersaing) dengan penduduk Mekaah. Karena penduduk Mekkah menambah shalat mereka yang 23 rakaat dengan tawaf sehingga pahalanya lebih banyak. Untuk itu, khusus bagi penduduk Madinah, agar bisa menyaingi pahala orang Mekkah, mereka menambah bilangan rakaat menjadi 36. Tapi ini hanya berlaku untuk Madinah saja.

Hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak menambah dari 11 rakaat shalat malamnya di dalam Ramadhan dan di luar Ramadhan adalah dalam pengertian shalat witir atau shalat malam. Tidak termasuk shalat tarawih di bulan Ramadhan.

Tahajjud dan Witir

Witir adalah shalat sunnah penuutp shalat malam, baik pada bulan ramadhan maupun di luar bulan ramadhan.

(2)

Syaithon Dibelenggu

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Ustad PKS yang insyaallah dirahmati Allah Swt. Saya pernah mendengar bahwa di dalam Bulan Suci Romadhon, pintu surga dibuka lebar2, pintu neraka ditutup rapat2 dan syaithon diborgol/dibelenggu. Apakah orang yang meninggal di dalam bulan tersebut sedangkan dia beriman apakah langsung masuk surga tanpa hisab, karena pintu surga terbuka sedangkan pintu neraka ditutup. Kalau syaithon diborgol mengapa kita masih sering tergoda oleh syaithon untuk berbuat yang tidak baik dalam berpuasa; malas, ghibah, membuang-buang waktu dll. Mohon penjelasan.

Jazakumullah khoiron katsiron, Wassalamu’alaikum wr.wb.

Hurin

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.
Tidak ada keterangan yang menyebutkan bahwa orang beriman bila wafat di bulan Ramdhanan langsung masuk surga tanpa hisab. Yang jelas-jelas disebutkan bisa masuk surga tanpa hisab adlaah orang yang syahid di jalan Allah SWT.

Hadis-hadis yang menyatakan bahwa syetan-syetan akan dibelenggu pada bulan Ramadhan adalah hadis shohih yang diriwayatkan oleh sejumlah ulama hadis, antara lain: Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Ahmad, Ibnu Huzaimah dan lain-lain.

Dari Abu Hurairoh Ra. Sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda: “Apabila bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu surga akan dibukakan dan pintu-pitu neraka akan ditutup serta syetan-syetan akan dibelenggu” (HR. Bukhori No. 1898 dan Muslim 1079)

Ada beberapa penjelasan dari para ulama mengenai maksud dari perkataan Rasulullah SAW bahwasanya syetan-syetan dibelenggu pada bulan suci Ramadhan:
Pertama:
Al-Hulaimi berpendapat bahwa yang dimaksud dengan syetan-syetan di sini adalah syetan-syetan yang suka mencuri berita dari langit saja yang terjadi di waktu malam bulan Ramadhan karena pada jaman turunnya Al-Qur’an mereka pun terhalangi untuk melakukan hal tersebut dan dengan adanya “belenggu” tersebut, maka akan menambah penjagaan (sehingga syetan-syetan tersebut tidak mampu melakukannya lagi).

Kedua:
Syetan tidak bisa leluasa untuk mengganggu dan mencelakakan manusia tidak seperti biasanya, karena manusia sibuk dengan shaum, membaca Al-Qur’an dan berdzikir.

Ketiga:
Yang dibelenggu hanya sebagiannya saja, yaitu syetan-syetan yang membangkang sebagaimana dijelaskan oleh hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Huzaimah, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim.

Dari Abu Hurairoh Ra. Rasulullah SAW bersabda: “Pada malam pertama bulan Ramadhan syetan-syetan dibelenggu. Yaitu syetan-syetan yang membangkang”
Keempat:
Yang dimaksud dengan “dibelenggu” merupakan suatu ungkapan akan ketidakmampuan syetan untuk menggoda dan menyesatkan manusia.

Jika ada pertanyaan, mengapa masih banyak terjadi kemaksiatan pada bulan Ramadhan? Bukankan syetan-syetan yang biasa menggoda manusia telah dibelenggu? Berdasarkan pengertian diatas, para ulama menjawab pertanyaan tersebut dengan empat jawaban:

  1. Dibelenggunya syetan hanya berlaku bagi mereka yang melakukan ibadah shaum dengan penuh keikhlasan.
  2. Yang dibelenggu hanya sebagian syetan saja, yaitu syetan yang membangkang sebagaimana dijelaskan di atas.
  3. Yang dimaksud adalah berkurangnya tindak kejahatan atau perilaku maksiat. Dan hal tersebut dapat kita rasakan meskipun masih terjadi tindak kejahatan atau kemaksiatan tapi biasanya tidak sebanyak di bulan-bulan lainnya.
  4. Tidak mesti dengan dibelenggunya syetan maka kemaksiatan akan hilang atau terhenti, karena masih ada sebab-sebab lainnya selain syetan. Bisa jadi kemaksiatan tersebut timbul karena sifat jelek manusianya, adat istiadat yang rusak, lingkungan masyarakat yang sudah bobrok, serta kemaksiatan tersebut bisa juga disebabkan oleh syetan-syetan dari golongan manusia. (Fathul Bari IV/ 114-115, ?Umdatul Qari X/386 dan Ikmalul Mu?lim IV/6)

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

(3)

Niat Puasa Harus Setiap hari ?

Niat untuk berpuasa pada prinsipnya adalah menyengaja dalam hati atau ketetapan di dalam hati kita bahwa esok hari saya akan melakukan puasa. Sedangkan pelafalannya seperti yang sering kita dengar bukanlah termasuk syarat dari niat. Sehingga bila di dalam hati kita terbersit untuk melakukan puasa, syahlah niat itu dan cukuplah dengan itu.

Syarat adanya niat ini hanya berlaku pada puasa wajib seperti ramadhan ini. Sedangkan pada puasa sunnah, tidak disyaratkan adanya niat sejak malamnya. Sehingga puasa sunnah bisa dilakukan dengan cara improvisasi. Artinya bila pada sejak pagi hingga siang hari seseorang kebetulan belum makan atau minum, maka kalau lantas berniat untuk puasa saja, boleh dilakukan. Dan hal itu sering terjadi pada diri Rasulullah SAW. Dimana beliau tidak mendapatkan makanan pada pagi hari, lantas beliau berniat untuk puasa saja.
Dari Aisyah RA. Berkata, Rasulullah SAW datang kepadaku pada suatu hari dan bertanya, “Apakah kamu punya makanan “. Aku menjawab,”Tidak”. Beliau lalu berkata,”Kalau begitu aku berpuasa”. (HR. Muslim)
Kedudukan niat ini menjadi sangat penting untuk puasa wajib. Karena harus sudah diniatkan sebelum terbit fajar. Dan puasa wajib itu tidak syah bila tidak berniat sebelum waktu fajar itu.

Sabda Rasulullah SAW :
Barang siapa yang tidak berniat pada malamnya, maka tidak ada puasa untuknya. (HR. Tirmizy)

Sedangkan, apakah niat itu harus dilakukan setiap malam atau bisa dilakukan di awal ramadhan saja, maka para ulama berbeda pendapat :
1. Jumhur Ulama : Harus Setiap Malam
Menurut jumhur ulama, niat itu harus dilakukan pada setiap malam yang besoknya kita akan berpuasa secara satu per satu. Tidak bisa digabungkan untuk satu bulan.
Logikanya adalah karena masing-masing hari itu adalah ibadah yang terpisah-pisah dan tidak satu paket yang menyatu. Buktinya, seseorang bisa berniat untuk puasa di suatu hari dan bisa berniat tidak puasa di hari lainnya.
Oleh karena jumhur ulama mensyaratkan harus ada niat meski tidak perlu dilafazkan pada setiap malam hari bulan ramadhan.

2. Kalangan Fuqaha Al-Malikiyah : Boleh Niat Untuk Satu Bulan
Sedangkan kalangan fuqaha dari Al-Malikiyah mengatakan bahwa tidak ada dalil nash yang mewajinkan hal itu. Bahkan bila mengacu kepada ayat Al-Quran Al-Kariem, jelas sekali perintah untuk berniat puasa satu bulan secara langsung dan tidak diniatkan secara hari per hari.

Ayat yang dimaksud oleh Al-Malikiyah adalah :

“Siapa yang menyaksikan bulan (Ramadhan) itu hendaklah dia berpuasa”(QS. Al-Baqarah : 185)

Menurut mereka, ayat Al-Quran Al-Kariem sendiri menyebutkan bahwa hendaklah ketika seorang mendapatkan bulan itu, dia berpuasa. Dan bulan adalah isim untuk sebuah rentang waktu. Sehingga berpuasa sejak hari awal hingga hari terakhir dalam bulan itu merupakan sebuah paket ibadah yang menyatu.

Dalam hal ini mereka membandingkannya ibadah haji yang membutuhkan masa pengerjaan yang berhari-hari. Dalam haji tidak perlu setiap hari melakukan niat haji. Cukup di awalnya saja seseorang berniat untuk haji, meski pelaksanaannya bisa memakan waktu seminggu.

(4)

Puasa Untuk Lansia

Orang yang sudah tua dan tidak mampu lagi untuk berpuasa, maka tidak ada kewajiban untuk berpuasa Ramadhan baginya. Cukup dengan membayar fidyah saja.

Dalilnya adalah ayat Al-Quran Al-Karim :

… Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya membayar fidyah, : memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan , maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 184)

Fidyah adalah memberi makan kepada satu orang fakir miskin sebagai ganti dari tidak berpuasa. Fidyah itu berbentuk memberi makan sebesar satu mud sesuai dengan mud nabi. Ukuran makan itu bila dikira-kira adalah sebanyak dua tapak tangan nabi SAW.

Sedangkan kualitas jenis makanannya sesuai dengan kebiasaan makannya sendiri.

Yang diwajibkan membayar fidyah adalah :

  1. Orang yang sakit dan secara umum ditetapkan sulit untuk sembuh lagi.
  2. Orang tua atau lemah yang sudah tidak kuat lagi berpuasa.
  3. Wanita yang hamil dan menyusui apabila ketika tidak puasa mengakhawatirkan anak yang dikandung atau disusuinya itu. Mereka itu wajib membayar fidyah saja menurut sebagian ulama, namu menurut Imam Syafi`i selain wajib membayar fidyah juga wajib mengqadha` puasanya. Sedangkan menurut pendapat lain, tidak membayar fidyah tetapi cukup mengqadha`.
  4. Orang yang meninggalkan kewajiban meng-qadha` puasa Ramadhan tanpa uzur syar`i hingga Ramadhan tahun berikutnya telah menjelang. Mereka wajib mengqadha`nya sekaligus membayar fidyah.

Berapa ukuran fidyah itu ?
Sebagian ulama seperti Imam As-Syafi`i dan Imam Malik menetapkan bahwa ukuran fidyah yang harus dibayarkan kepada setiap satu orang fakir miskin adalah satu mud gandum sesuai dengan ukuran mud Nabi SAW. Sebagian lagi seperti Abu Hanifah mengatakan dua mud gandum dengan ukuran mud Rasulullah SAW atau setara dengan setengah sha` kurma/tepung atau setara dengan memberi makan siang dan makan malam hingga kenyang.

(5)

Penentuan Awal Dan Akhir Ramadhan

Untuk menentukan awal Ramadhan, ada dua cara yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW yaitu :

  1. Dengan melihat bulan (ru`yatul hilal).

    Yaitu dengan cara memperhatikan terbitnya bulan di hari ke 29 bulan Sya`ban. Pada sore hari saat matahari terbenam di ufuk barat. Apabila saat itu nampak bulan sabit meski sangat kecil dan hanya dalam waktu yang singkat, maka ditetapkan bahwa mulai malam itu, umat Islam sudah memasuki tanggal 1 bulan Ramadhan. Jadi bulan Sya`ban umurnya hanya 29 hari bukan 30 hari. Maka ditetapkan untuk melakukan ibadah Ramadhan seperti shalat tarawih, makan sahur dan mulai berpuasa.

  2. (Ikmal) Menggenapkan umur bulan Sya`ban menjadi 30 hari

    Tetapi bila bulan sabit awal Ramadhan sama sekali tidak terlihat, maka umur bulan Sya`ban ditetapkan menjadi 30 hari (ikmal) dan puasa Ramadhan baru dilaksanakan lusanya.

    Perintah untuk melakukan ru`yatul hilal dan ikmal ini didasari atas perintah Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Abu Hurairah ra. :

    Puasalah dengan melihat bulan dan berfithr (berlebaran) dengan melihat bulan, bila tidak nampak olehmu, maka sempurnakan hitungan Sya`ban menjadi 30 hari.(HR. Bukhari dan Muslim).

Sedangkan metode penghitungan berdasarkan ilmu hisab dalam menentukan awal Ramadhan tidak termasyuk cara yang masyru` karena tidak ada dalil serta isyarat dari Rasulullah SAW untuk menggunakannya.

Ini berbeda dengan penentuan waktu shalat dimana Rasulullah SAW tidak memberi perintah secara khusus untuk melihat bayangan matahari atau terbenamnya atau terbitnya atau ada tidaknya mega merah dan seterusnya. Karena tidak ada perintah khusus untuk melakukan rukyat, sehingga penggunaan hisab khusus untuk menetapkan waktu-waktu shalat tidak terlarang dan bisa dibenarkan.

Ikhtilaful Matholi`

Ada perbedaan pendapat tentang ru`yatul hilal, yaitu apakah bila ada orang yang melihat bulan, maka seluruh dunia wajib mengikutinya atau tidak ? Atau hanya berlaku bagi negeri dimana dia tinggal ? Dalam hal ini para ulama memang berbeda pendapat :

  • Pendapat pertama adalah pendapat jumhur ulama
    Mereka (jumhur) menetapkan bahwa bila ada satu orang saja yang melihat bulan, maka semua wilayah negeri Islam di dunia ini wajib mengikutinya. Hal ini berdasarkan prinsip wihdatul matholi`, yaitu bahwa mathla` (tempat terbitnya bulan) itu merupakan satu kesatuan di seluruh dunia. Jadi bila ada satu tempat yang melihat bulan, maka seluruh dunia wajib mengikutinya.

Pendapat ini didukung oleh Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hanbal.

  • Pendapat Kedua adalah pendapat Imam Syafi`i RA.
    Beliau berpendapat bahwa bila ada seorang melihat bulan, maka hukumnya hanya mengikat pada negeri yang dekat saja, sedangkan negeri yang jauh memeliki hukum sendiri. Ini didasarkan pada prinsip ihktilaful matholi` atau beragamnya tempat terbitnya bulan.

Ukuran jauh dekatnya adalah 24 farsakh atau 133,057 km. Jadi hukumnya hanya mengikat pada wilayah sekitar jarak itu. Sedangkan diluar jarak tersebut, tidak terikat hukum ruk`yatul hilal.

Dasar pendapat ini adalah hadits Kuraib dan hadits Umar, juga qiyas perbedaan waktu shalat pada tiap wilayah dan juga pendekatan logika.

Semoga bermanfaat.Amin

Maraji’:

Dr. Mustofa Said Al-Khin  et al.2005.Syarah dan Terjemah Riyadhus Shalihin Imam Nawawi. Jakarta    Al-I’thishom Cahaya Umat

Sa’id Hawwa.1998.Tazkiyatun Nafs [Intisari Ihya’ Ulumuddin Al-Ghazali].Jakarta.Rabbani Press

Syariahonline.com

Iklan

Entry filed under: Ramadhan, taushiyah. Tags: , , .

Kepada Istriku 6 Hal Penyebab Penyakit Hati

1 Komentar Add your own

  • 1. Mohd Fauzi M Musa  |  Agustus 9, 2010 pukul 3:54 pm

    terima kasih dengan informasi yang tuan himpunkan. semoga banyak lagi yang akan menyusul

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Juli 2010
S S R K J S M
« Feb   Agu »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Blog Stats

  • 31,927 hits

%d blogger menyukai ini: