Tentang Kata

Desember 23, 2009 at 1:31 pm 2 komentar

“ dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim?” Al Fushilat : 33

Pernahkah kita membayangkan… menjadi seseorang yang perkataannya “bercahaya”. Mereka yang mendengar perkataan kita  merasakan kedamaian,semangat, bertambah ilmu dan imannya, terinspirasi untuk berbuat baik, termotivasi untuk lebih rajin beribadah kepada Allah.

Pernahkah kita membayangkan…menjadi seorang guru yang murid kita bisa “menikmati” pelajaran yang kita sampaikan, mudah mencernanya, mudah memahami, bahkan tercerahkan. Atau menjadi seorang anak yang mampu membuat orang tua,keluarga, guru, saudara dan sahabat kita hatinya senang, tidak merasa tersakiti oleh perkataan kita.

Alangkah mulianya lisan Rasulullah saw… yang diucapkan beliau adalah “cahaya”, wahyu yang Allah turunkan. Alangkah bahagianya para sahabat r.a mendengarkan ayat-ayat Al Qur’an dan hadits secara langsung dari lisan Rasulullah saw.

Alhamdulillah… kita mesti bersyukur ketika Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk mendengarkan ayat-ayat Al Qur’an dan hadits. Mari kita bayangkan, lafaz ayat-ayat Al Qur’an dan hadits itu keluar dari lisan Rasulullah yang mulia…, alangkah indahnya?

Kita pasti ingin meniru Rasulullah… kita ingin agar perkataan kita adalah “cahaya”, menjadi amal shalih, dan dicatat sebagai ibadah.

Sejenak, mari kita renungkan beberapa petunjuk dari Al Qur’an terkait perkataan atau “qaulan”, antara lain;

ü  Qaulan sadida : perkataan yang benar

Kalimat yang kita sampaikan haruslah sebuah kebenaran (Al Ahzab:70, An Nisa:9),sebuah qaulal haq (Maryam:34),bukan dusta, isu, rumors, apalagi fitnah. Bukankah kita bosan dan jenuh melihat “panggung sandiwara” di lembaga-lembaga negara, kasus Antasari, Bibit-Candra, Bank Century…dll, penegakan hukum menjadi bertele-tele karena ada fihak yang tidak jujur, tidak berkata benar.

ü  Qaulan ma’rufa : perkataan yang baik

Perkataan kita harus baik-baik isinya dan juga cara penyampaiannya (Al Baqarah ayat 235,263)

ü  Qaulan baligha : perkataan yang membekas/komunikatif

Kita harus berusaha agar perkataan kita difahami oleh orang lain, komunikatif bahkan membekas (An Nisa:63).

ü  Qaulan tsaqila : perkataan yang berbobot/berkualitas

Kalimat kita tidak boleh asal bunyi, sebisa mungkin ada isinya, berkualitas, ilmiah, dan bermanfaat (Al Muzzammil ayat 5).

ü   Qaulan layyina : perkataan yang santun, lemah-lembut

Dalam surat Thaha ayat 44, Allah mengajarkan kepada Nabi Musa AS untuk mendakwahi Fir’aun dengan perkataan yang santun dan lemah-lembut. Jika kepada Fir’aun, manusia paling dzalim karena mengaku dirinya Tuhan saja masih diperintahkan berkata santun, apalagi kepada orang-orang di sekitar kita yang baik-baik; orang tua, guru, keluarga, saudara, tetangga, teman, sahabat, mereka lebih berhak untuk mendapatkan kata-kata santun dan lemah-lembut dari kita.

ü  Qaulan Karima : perkataan yang mulia

Dalam surat Al Israa’ ayat 23, Allah mengajarkan kita untuk mengucapkan perkataan yang mulia, terutama kepada orang-orang yang harus kita hormati; orang tua, guru, ulama.

ü  Qaulan maisura : perkataan yang pantas

Kalimat yang kita ucapkan harus pantas, sesuai dengan tempat, situasi dan kondisi (Al Israa’:28)

Perkataan di atas adalah perkataan yang diperintahkan. Selain itu Al Qur’an juga memperingatkan kita tentang jenis perkataan-perkataan tercela, antara lain;

Perkataan yang indah tapi menipu (ghurur)

Kita harus hati-hati…, ini adalah perkataan syaitan untuk menipu dan menyesatkan manusia  (Al An’am:112).

Perkataan dusta

Allah memerintahkan kita untuk menjauhi perkataan dusta (Al Hajj:30), berhati-hati serta waspada terhadap mereka yang biasa berkata dusta.

Perkataan sia-sia dan menimbulkan dosa

Salah satu nikmat yang Allah berikan kepada penghuni surga adalah, mereka tidak mendengar di dalam surga perkataan yang sia-sia, dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa (Al Waqi’ah:25)

Perkataan keji

Allah mencela orang-orang yang sombong dan berkata keji (Al Mu’minun:67)

Perkataan yang melampaui batas

Perkataan ini sangat tercela… (Al Jin:4)

Perkataan munkar

Munkar adalah lawan dari ma’ruf, Allah memperingatkan kita untuk tidak mengucapkan perkataan yang munkar (Al Mujadilah:2)

Perkataan yang tidak berguna, tidak bermanfaat

Surat Lukman:6 dan Al Qashash:55 mengingatkan kita untuk tidak tertipu dan terlena oleh jenis perkataan ini, dan salah satu ciri kesempurnaan iman adalah meninggalkan perkataan yang tidak berguna (Al Mu’minun:3)

Perkataan kekafiran

Na’udzubillah min dzalik, perkataan ini adalah jenis perkataan yang menjerumuskan seseorang kepada kekafiran (At Taubah:74)

Sungguh…, ternyata kita harus menjaga perkataan kita dan hati-hati terhadap setiap perkataan yang kita dengar.

Pernahkah kita ingin mengucapkan sesuatu perkataan yang baik, ilmiah, inspiratif, bercahaya? Tetapi ternyata yang keluar dari lisan kita hanyalah perkataan yang “sekedarnya”.

Sejatinya perkataan kita itu ibarat “ filosofi teko”… teko yang berisi teh akan mengeluarkan teh, teko yang berisi susu akan mengeluarkan susu. Selalu seperti itu, tidak pernah berubah. Perkataan kita akan didominasi kebaikan, didominasi cahaya… jika hanya jika isi hati dan pikiran kita didominasi kebaikan dan cahaya.

[Mungkin ada orang-orang yang mampu memanipulasinya…, bukankah sering kita lihat, kita baca, kita dengar tentang mereka yang pandai berbicara, tapi sesungguhnya semu. Atau mereka yang berbicara “baik” untuk sebuah pencitraan/image. Mungkin mereka bisa menipu orang-orang kebanyakan,so…kudu hati-hati jangan sampe ketipu. Tetapi perjalanan waktu dan orang-orang yang memiliki “kecerdasan hati” takkan bisa ditipu. Kata orang Jawa “becik ketitik olo ketoro”]

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita lisan yang baik, yang mampu menghasilkan perkataan yang benar, baik, mulia, komunikatif, berkualitas,pantas, dan santun. Amin

Bogor, 22 Desember 2009

NB:

Artikel ini saya tulis karena terinspirasi oleh diskusi ringan dengan Akh Budi Saputro kemarin malam, jazakallah bro atas inspirasinya.

 

 

Iklan

Entry filed under: rehat sejenak.... Tags: , .

Tembok Pembatas Mimpi Kepada air mata

2 Komentar Add your own

  • 1. danny  |  Maret 27, 2011 pukul 10:30 pm

    Syukron jazakumullah for share
    Ijin share ya..
    Great Post !

    Balas
  • 2. rona khatulistiwa  |  Mei 31, 2011 pukul 4:53 am

    Assalamu’alaykum akhi, ana minta izin share tulisannya ya. syukran jazilan

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Desember 2009
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 34.624 hits

%d blogger menyukai ini: