Belajar dari Siti Maryam dan Nabi Isa AS

Agustus 23, 2009 at 3:20 pm 1 komentar

Bogor.8/23/2009 6:31 AM

Alhamdulillah…ahad pagi tanggal 2 Ramadhan ini terasa begitu indah, atas hidayah Allah kaki ini melangkah ke Masjid Al Hijri untuk mengikuti kajian Tafsir Qur’an yang diasuh Ust. Didin Hafidhuddin.

Belajar dari Siti Maryam dan Nabi Isa AS…begitulah pelajaran yang kudapatkan pagi ini, karena memang kajian tafsir kali ini membahas ayat 27-32 dari surat Maryam yang menceritakan kisah Siti Maryam dan putranya, Nabi Isa AS.

Menurut Ust. Didin, ada dua pelajaran untuk kita dari ayat-ayat ini;

1. Bahwa Allah akan menjaga dan menolong hamba- Nya yang shalih/ah

Di ayat 27-29 diceritakan bagaimana Siti Maryam, seorang wanita yang terkenal shalihah, keturunan dari orang tua yg baik, difitnah berbuat sesuatu yang munkar karena telah melahirkan nabi Isa AS tanpa suami. Kemudian Allah menolong Siti Maryam dengan menurunkan mukjizat kepada Nabi Isa AS yang masih bayi untuk bisa bicara dan mengatakan tentang siapa dirinya. Hal ini adalah sunnatullah bahwa Allah pasti akan menolong hamba-Nya, sebagaimana Allah tegaskan dalam beberapa ayat di Al Qur’an.

Siti Maryam adalah salah satu wanita shalihah yang diabadikan dalam Al Qur’an. Beberapa karakter atau cirri-ciri wanita shalihah telah Allah ajarkan di Surat At Tahrim ayat ke-5, yakni :

  • Muslimah

Seseorang dianggap shalihah oleh Allah haruslah seorang muslimah, sebaik apapun seorang wanita jika ia belum bersyahadat tidaklah dianggap shalihah

  • Mukminah

wanita yang memiliki iman, aqidah, pemikiran, keyakinan yang lurus tidak menyimpang

  • Qanitat

Adalah wanita yang ta’at kepada Allah dan rasul, juga kepada suaminya. Ust. Didin menyitir salah satu hadits Rasulullah tentang karakter wanita yang ta’at:

“wanita yang mengerjakan sholat wajib lima waktu,

mengerjakan puasa di bulan Ramadhan,

menjaga kehormatannya [aurat, akhlak, kemaluan, dan pergaulannya],

ta’at pada suaminya,

maka akan masuk Surga”

Subhanallah…betapa besar karunia Allah untuk kaum wanita

  • Taibat

Adalah wanita yang senantiasa bertaubat, membersihkan jiwanya, menjadikan taubat sebagai ahlak dan pakaiannya

  • ‘abidat

Adalah wanita-wanita yang rajin menunaikan ibadah, baik wajib ataupun yang sunnah

  • Saihat

Yakni wanita-wanita yang terbiasa melakukan puasa sunnah. Puasa adalah sarana untuk membersihkan jiwa dan pikiran, mendekatkan diri dan meminta pertolongan kepada Allah. Dalam beberapa ayat Allah mengajarkan kita  “wasta’inu bis shabri washolah [mintalah pertolongan kepada Allah dengan shabar dan sholat”. Banyak ulama mengatakan bahwa shabar disini maksudnya adalah puasa

2. Tentang siapakah Nabi Isa AS itu?

Di ayat 30-32 Allah mengajarkan siapakah Nabi isa AS itu. Allah Azza wa Jalla menurunkan mukjizat kepada Nabi Isa AS, beliau yang masih bayi bisa bicara dan menceritakan siapakah dirinya;

  • Inni ‘abdullah

Bahwa beliau adalah hamba Allah, bukan anak Nya atau bagian dari trinitas

  • Ataniyal kitaba
  • Diberikan kitab [injil, tapi bukan injil yang sekarang]
  • Ja’alani nabiyya

Dijadikan seorang Nabi untuk kaumnya bani Israil

  • Ja’alani mubarakan ainamakuntu

Dijadikan seorang yang diberkahi dimana pun berada. Berkah artinya adalah…bahwa ujungnya baik, ketika kaya ya ujungnya baik, ketika miskin ya ujungnya baik, ketika sehat ya ujungnya baik, ketika sakit ya ujungnya baik, jadi semuanya bermuara pada kebaikan

  • Wa-aushani bisholati wa zakati ma dumtu hayya

Diperintah oleh Allah untuk menunaikan sholat dan zakat [sesuai syariat saat itu] sepanjang hidup

  • Barran bi walidati

Berbakti kepada orang tua

  • Lam taj’alni jabbaran syaqiyya

Bukanlah orang yang sombong atau celaka

So, jika kita ingin bahagia, hidup berkah, selalu mendapatkan pertolongan Allah, selalu dijaga Allah, tidak ada cara lain kecuali kita harus mendidik diri menjadi orang yang shalih/ah. Tidak ada cara lain.

Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat

Iklan

Entry filed under: taushiyah. Tags: , , , .

Indahnya Berjalan ke Masjid : “Meminta Cahaya” Belajar dari Tantowi Yahya

1 Komentar Add your own

  • 1. akiadnani  |  Juni 26, 2012 pukul 5:33 pm

    Bagian awal surah Maryam, pada ‘ain/ruku’ pertama adalah pemaparan kisah rahmat yg turun kepada Zakaria, yg semenjak muda hingga usia tua dg tulang belulang yang makin merenta dan rambut telah memutih, senantisa berharap mendapatkan seorang anak yg kelak akan meneruskan risalah nenek moyang mereka, yakni nabi Ya’qub, memimpin sinagog (yg Islam/Alquran menyebutnya masjidil Aqsha) Berkat doa yang terus dipanjatkan tanpa putus asa, akhirnya pintanya dijawab oleh Allah, bahwa Zakaria akanmemperoleh apa yg ia sangat harapkan. Hanya saja Allah memberikan persyaratan bahw nabi Zakaria tidak boleh berbicara atau berkata-kata selama tiga hari dan atau tiga malam Sehubungan dengan Raja Herodes Antipas mengumumkan bahwa di seluruh wilayah Yerusalem, setiap bayi atau anak laki-laki harus dibunuh, lantaran sang raja sangat khawatir kekuasaannya, suatu ketika, akan direbut oleh bayi laki-laki yang sekarang dilahirkan tadi. Jadi tentu saja bila berita kelahiran Yahya ini sampai ke telinga sang raja, habislah riwayat anak yang menjadi harapan nabi Zakaria ini.
    Akan halnya siti Maryam,ketika ia berda di ruang pingitan (ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur), Allah mengutus kepada Maryam seorang sosok yang disebut basyaran sawiyyan atau manusia (laki-laki) sempurna. Terjadilah dialog antar keduanya, pada akhir episode ini, hamil-lah siti Maryam. Maryam kita berhadapan dengan moment kelahiran sang bayi yg kelak dinamai Isa, dengan penuh problematika. Iapun menyampaikan keluhannya yang sangat menyayat hati: Aduhai, cabut sajalah nyawaku sebelum semua ini terjadi, (sehingga kisahku ini) menjadi sesuatu yg tak berarti,dilupakan orang. Akhirnya proses kelahiranpun berlalu, namun problema berikutnyapun muncul, manakala ia bertemu dengan penduduk dimana ia berada, tentulah dengan seorang bayi di pangkuannya akan menjadikan dirinya makin terpuruk. Betapa tidak, karena Maryam punya anak tanpa diketahui oleh orang banyak siapakah gerangan bapaknya? Dalam kemelut seperti ini, Allah berfirman kepada Maryam bahwasanya bila Maryam berpapasan dengan siapaun,dan pasti mereka akan bertanya sebagai hujatan, maka untuk kali ini Maryam harus menjawab: “Sungguh aku telah bernadzar bahwa hari ini aku berpuasa (shauman), karenanya aku tidak akan berbicara apapun dan dengan siapapun……..”. Berbeda dengan ketika Isa telah remaja, maka bila orang banyak menghujat Maryam, dan memang hujatan yang menyakitkan itu dilontarkan, maka untuk jawabannya; silahkan tanya saja anaknya. Nabi Isa sejak remaja telah pandai atau menguasai Taurat. Kecemburuan orang-orang Yahudi kepada Isa lantaran kecerdasannya,mereka menyebut nabi Isa, sebagai anak yg masih dalam ayunan, masih hijau atau dalam bahsa kita: anak ingusan”. Karena memang ia diangkat jadi Rasul pada waktu berumur 30 tahun, dan melaksanalan kerasulannya selama tiga atau, atau sekitar umur-umur seperti itu. Kisah siti Maryam bersama Isa menjadi kacau balau, lepas dari sejarah keasliannya, sebagaiman ditegaskan Allah pada QS21:91-93.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Agustus 2009
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Blog Stats

  • 34.624 hits

%d blogger menyukai ini: