Nasehat Lukman Hakim

Juni 13, 2009 at 4:20 pm 2 komentar

Bogor.12/06/2009

masjid bogor.jpg_thumbSiang tadi saya Sholat Jum’at di Masjid Raya Bogor. Khatibnya adalah Ust. Ir. Saiful Naumin, M.Ag. Masih ingat dulu di tahun 98, semasa masih di TPB, Alhamdulillah saya diajak Mas Arief Maulana silaturahim ke rumah beliau untuk mengundangnya sebagai pembicara di seminar yang diselenggarakan biro Farabi Masjid Al Ghifari.

Subhanallah, khutbah yang disampaikan mantap, berapi-api. Beliau mengupas secara singkat pesan Lukman Hakim [seorang Nabi yang se- zaman Nabi Musa AS, kata khatib red] kepada anaknya.

Di awal khutbah, Pak Saiful membahas singkat tentang problema pendidikan di Indonesia, di antaranya adalah lemahnya pendidikan karakter, yang diutamakan adalah pengajaran bukan pendidikan. Beliau juga menyindir tentang sekolah bertaraf internasional yang lebih bertendensi menjadi sekolah bertarif internasional [dalam hati bener juga ya].

Kembali ke nasihat Lukman Hakim, khatib mengutip Surat Lukman ayat 12-14 :

12. Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

13. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

14. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Menurut Beliau, berdasarkan ayat di Surat Lukman ini, karakter yang harus diajarkan pada anak-anak kita adalah:

  1. Bersyukurlah kepada Allah” dalam arti yang sebenarnya. Ada 3 dimensi syukur menurut beliau. Dimensi pertama, bersyukur berarti memahami bahwa semua nikmat berasal dari Allah SWT, maka ia akan memuji Allah. Dan kebanyakan orang berhenti sampai dimensi ini, tidak salah tapi kurang sempurna. Dimensi kedua, bersyukur berarti mengembalikan sebagian nikmat yang telah dianugerahkan Allah kembali ke jalan Allah, melalui zakat, infak, sedekah, wakaf, dll.Dimensi ketiga, bersyukur berarti obsesif, ambisius untuk terus mengembangkan diri, meningkatkan kapasitas [tambah kaya, tambah sukses, tambah ilmu dll], karena Allah SWT telah berjanji bahwa “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” Di surat Ibrahim ayat 7. Dan Allah mengingatkan kita berulangkali di surat Ar Rahman tentang mensyukuri nikmatnya, “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” dalam beberapa ayat yang berulang. Sudahkah kita bersyukur?

  1. “janganlah kamu mempersekutukan Allah” karena ini adalah kezaliman yang besar, kedunguan yang sangat dungu. Allah SWT telah menciptakan kita sebagai makhluknya yang terbaik, yang paling sempurna di antara makhluknya yang lain. Bahkan malaikat pun diperintah sujud kepada Adam AS, hanya iblis la’natullah alaih yang menolak karena kesombongannya. Jadi sangatlah bodoh kalo kita mensyarikatkan Allah dengan yang lain, orang pintar, keris, batu-batu sakti dll yang dipertuhankan selain Allah. Manusia, kita adalah makhluk Allah yang terbaik, paling sempurna, so be confident! Percaya diri lah.

  1. “(berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya”, menjadi anak yang ta’at tidak durhaka kepada kedua orang tua. Khatib mengingatkan bahwa ridha Allah bergantung pada ridha orang tua, bahwa dua dosa yang langsung dibalas oeh Allah adalah do’a menzalimi orang lain dan durhaka kepada kedua orang tua. Tugas para orang tua lah mendidik anaknya menjadi anak yang shalih yang tidak durhaka. Dalam mendidik anak, kita juga perlu memberikan reasoning, sebagaimana Allah mengajari kita pada ayat 14 di atas. Jangan sekedar menyuruh atau melarang saja, tapi berikan reasoning. Jadi, sebagai anak kita berdo’a “ Allahummaghfirli dzunubi waliwalidayya, warhamhuma kama rabbayani shaghira” dan sebagai orang tua kita berdo’a “Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota a’yun, waj-alna lil muttaqina imama”.

karena keterbatasan waktu, di khutbah pertama hanya 3 ayat yang sempat dibahas,  jika dilanjutkan ada beberapa pesan lainnya, antara lain:

16. (Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus[1181] lagi Maha Mengetahui.

17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

18. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

19. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan[1182] dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

[1182]. Maksudnya: ketika kamu berjalan, janganlah terlampau cepat dan jangan pula terlalu lambat.

Setelah duduk di antara 2 khutbah, khatib kembali mengajak jama’ah sholat Jum’at meneladani hikmah dari Lukman Hakim dan anaknya yang tidak dikisahkan di Al Qur’an, tapi ada dalam riwayat-riwayat yang telah masyhur.

Pada suatu hari Lukman Hakim mengajak anaknya ke pasar dengan menuntun keledai. Di jalan mereka bertemu dengan seseorang [orang pertama], orang itu mengatakan “bodoh sekali bapak dan anak itu, bawa keledai tapi kok tidak dinaiki, malah dituntun”. Mendengar omongan ini, anaknya kemudian naik ke atas punggung keledai.

Di jalan mereka lalu bertemu dengan seseorang [orang kedua], orang itu lalu mengatakan “durhaka sekali anak itu, mosok bapaknya disuruh jalan kaki, sedangkan dia enak-enakkan naik keledai”. Mendengar ucapan orang kedua, anaknya langsung turun, dan menyuruh bapaknya [Lukman Hakim] untuk naik ke atas keledai.

Di tengah perjalanan, kembali mereka bertemu dengan seseorang [orang ketiga], sebagaimana kedua orang sebelumnya, orang ketiga ini juga mengomentari “bagaimana sih bapak ini, teganya naik keledai sendiri, sedangkan anaknya disuruh jalan”. Nggak tahan mendengar komentar ini, anaknya lalu naik ke punggung keledai. Jadilah mereka berdua naik keledai berjalan ke arah pasar.

Seperti sebelumnya, di tengah jalan mereka bertemu dengan orang keempat, orang ini lalu berkata “tega sekali bapak dan anak ini, keledai kecil begitu dinaikin berdua, dasar tidak punya perikebinatangan”. Anaknya langsung turun, kemudian berlari dan kembali lagi dengan membawa kayu dan seutas tali. Keledai itu lalu diikat dan dipikul oleh mereka berdua.

Akhirnya mereka sampai di pasar, ternyata ketika mau dijual keledainya tidak laku, karena tidak ada orang yang mau membeli keledai yang lemah. Sang anak kemudaian bertanya kepada Lukman Hakim. “Bapak kan ahli hikmah, yang sering dimintai solusi oleh masyarakat, bagaimana nih yang terjadi dengan kita sekarang?”.

Lukman Hakim lalu berkata “anakku, beginilah engkau. Selalu mengikuti apa kata orang lain, selalu ikut-ikutan [dalam konteks sekarang, apa kata internet, media, tv, film, sinetron, mode engkau ikuti], tanpa memikirkan apakah baik menurut otak, menurut akal, apakah benar menurut hati. Ikutilah sesuatu dengan ilmu yang benar, jangan ikut-ikutan.” Kata khatib be yourself!, jadilah dirimu sendiri anakku.

Jadi tagline khutbah beliau hari ini :

BERSYUKURLAH [obsesif]

JANGAN MUSYRIK [be confident]

JANGAN DURHAKA

Be Yourself!

Karakter seperti inilah yang harus kita didikkan kepada anak-anak bangsa ini, sebelum mereka dicekoki berbagai macam disiplin ilmu, sehingga tidak ada lagi kisah korupsi, narkoba, pengkhianatan, selingkuh, dan berbagai macam penyimpangan yang dilakukan anak bangsa, sekalipun mereka bergelar Dr atau Prof seperti sekarang ini. Wallahu a’lam.

Belum pernahkah kita mendengar nasehat Lukman Hakim kepada anaknya ini? Pasti pernah, bahkan sebagian kita mungkin malah pernah memberikan taushiyah dengan kisah ini.

Tapi tetap saja kita butuh diingatkan, karena kita suka lupa, suka lalai. Karena peringatan bermanfaat bagi orang-orang beriman.

Jazakumullah Ustadz atas khutbahnya yang bersemangat.

Iklan

Entry filed under: taushiyah. Tags: , , , , .

Kerendahan Hati Menulis = Mendengarkan

2 Komentar Add your own

  • 1. Evie  |  Juli 20, 2009 pukul 12:16 pm

    Assalamualaikum wr.wb,

    saya lagi teringat dengan bapak Sayiful naumin kemudian saya search nama beliau dan saya menemukan halaman ini. kalo boleh saya tahu, apakah masih ingat alamat lengkap rumah beliau di Bogor, setidaknya saya bisa mengambung tali silahturahmi dengan beliau.
    terima kasih atas bantuannya.

    Wassalamualaikum wr.wb

    Evie Permata Sari
    viepermata@yahoo.com

    Balas
  • 2. rafaqo  |  Oktober 3, 2011 pukul 4:13 am

    nice

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Juni 2009
S S R K J S M
« Mei   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Blog Stats

  • 34.623 hits

%d blogger menyukai ini: