Menulis = Mendengarkan

Juni 13, 2009 at 4:25 pm 2 komentar

1

Bu, kini aku semakin tahu betapa tegarnya dirimu

Membesarkan anak di tengah badai tidaklah mudah

Tapi kau tegar, tak pernah berkurang tekadmu

Aku tahu, engkau ingin kami sekolah…terus sekolah

Entah kapan terakhir aku melihatmu memakai emas

Seperti ibu-ibu yang lain

Kau tak pernah menyerah Bu, tak kenal menyerah

Kutahu masa itu sangatlah sulit buatmu, buat kita

Tapi kau tetap tegar seperti karang

2

Berpikir…

Kata inilah yang harus kupatri di hatiku sekarang ini

Cogito ergo sum kata Descartes

Berpikir…berpikir…berpikir

Pelajari ilmu hilangkan prasangka

3

Karena waktu tak akan berulang

Karena itu jangan pernah berhenti

Karena perjalanan masih panjang

Karena bekal kita belum cukup

4

Cinta lagi cinta lagi

Apakah tidak ada yang lain?

Apakah cinta terlalu mempesona?

Cinta lagi cinta lagi

Di sepanjang jalan kudengar cinta

Di sepanjang usia kudengar cinta

Apakah tidak ada yang lain?

Apakah karena kita begitu merindukan cinta?

Apakah karena cinta begitu suci?

5

Apa yang sedang kupikirkan?

Apa yang kuinginkan sekarang?

Apa masalahku saat ini?

Apa yang kulakukan sekarang?

Kenapa tidak simetris?

Kenapa tidak harmonis?

6

Seperti air aku mengalir

Dari hulu aku ke hilir

Apakah sebentar lagi sampai laut?

Kenapa masih bertanya?

Bukankah air akan mengalir ke laut?

Aku tak mau menjawabnya

Karena kulihat betapa banyak air yang tak sampai ke laut

Sebenarnya sampai, tapi perjalanan mereka terlalu lama

Betapa menderitanya mereka

Tempat yang dituju sama tapi jalan yang ditempuh lebih panjang

Waktu tempuhnya lebih lama

7

Kapan aku terakhir melihatmu…aku lupa?

Bukankah dulu kita kawan seperjuangan?

Berteriak-teriak pada kezaliman

Tak pedulikan panas dan hujan

Menyusuri sepanjang jalan perjuangan

mengepalkan tangan

Kepada mereka yang telah berkhianat

Reformasi akhirnya benar-benar mati suri bukan?

Sejarah negeri kita memang benar telah berubah

Tapi kisahnya sama bahkan lebih berasa

Berulang dengan amplitudo  lebih besar

Kapan aku terakhir melihatmu…aku lupa, benar-benar lupa?

8

Pernahkah kita merenungi nasib budaya di negeri ini?

Tak usah jauh-jauh kawan…budaya itu cermin kita

Beberapa tahun lalu Emha berkata bahwa negeri ini adalah pantatnya inul

Negeri kita negeri apa sekarang kawan?

9

engkau telah mendidikku

Setiap hari dari Maghrib sampai jam 8 malam

Terus sepanjang usiamu

Tanpa jasa tanpa gaji

Sabarmu pada kami tak pernah habis

Padahal kami badung

Dan kami juga bukan anakmu

Tapi kau cinta

Karena itu kau mendidikku, mendidik kami

Mengamalkan ilmumu tak kenal lelah

10

Sepi

Rindu

Setelah ini apa?

11

Dari sebuah titik

Tempat kita berpijak

Kita bisa mendaki kawan

Gunung terjal di hadapan

Angin puncaknya harum…memikat

Jalannya panjang tapi

Berkelok-kelok penuh rintangan

Tapi indah

12

Sore

Mendung

Gelap

13

Bingung ya? Kenapa harus ada tulisan seperti ini? Maaf bro,saya sedang belajar menulis[dalam beberapa menit tanpa putus].Kemarin baca artikel Pak Hernowo penulis buku “Mengikat Makna”. Kata beliau menulis itu mendengarkan. Di artikel itu ditulis tentang Natalie G, seorang penulis di Amrik yang biasa menyelenggarakan workshop-workshop menulis, menulislah alirkan jati dirimu…kata dia.

Di majalah yang sama, katanya “writing is healing”, menulis itu menyembuhkan. Jadi kita nggak perlu ke dokter kalo sakit, menulis saja ntar insya Allah sembuh.He…he…he…

Apa pun kata orang, menulis saja sekarang. Berjalan seperti air, dari hulu ke hilir. Kita pasti akan sampai lautan.

Iklan

Entry filed under: buku & sastra. Tags: , , , , .

Nasehat Lukman Hakim EDENSOR

2 Komentar Add your own

  • 1. Kang Yudiono  |  Juni 14, 2009 pukul 7:08 am

    Menulislah seperti air yang mengalir…Selamat menulis bro

    Balas
    • 2. wahyu2005  |  Juni 14, 2009 pukul 7:42 am

      Terima kasih Kang, selalu mensuport saya.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Juni 2009
S S R K J S M
« Mei   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Blog Stats

  • 34.624 hits

%d blogger menyukai ini: