Dampak Krisis Global di Kampungku

April 28, 2009 at 7:43 am Tinggalkan komentar

krisis-globalNamanya Mas Karnoto…biasa ia dipanggil. Seperti beberapa orang di kampungku, Mas karnoto adalah “bos konveksi” [usaha pakaian jadi: celana, kemeja dll] dengan anak buah sekitar 50-an tukang jahit, plus tukang setrika, tukang potong, ditambah usaha “cuciannya” [mewarnai bahan], sebuah usaha konveksi yang sudah terpadu.

Kampungku berada di daerah sub-urban, yakni antara desa dan kota. Sebuah keniscayaan sosial, di kampungku juga terjadi perubahan sosial, terutama : pekerjaan utama warga, interaksi sosial.

Perubahan ini sangat dipengaruhi kondisi nasional. Era 80-an, pertanian[dan batik tulis tangan] masih mendominasi, tapi sejak awal 90-an mulai terjadi pergeseran, anak muda di kampungku lebih suka [atau terpaksa] merantau ke Jakarta untuk bekerja di konveksi[waktu itu masih sedikit yg jadi bos konveksi: Mas Sopi, Eksan dll].

Bisa dipastikan sekarang ini warga kampungku yg berusia 35-an tahun kebawah tidak menguasai ilmu tani, terutama “nyawah”[kalo ada paling sedikit].

Krisis moneter 97/98 ternyata membawa berkah tersendiri…, karena para bos konveksi dari kampungku yang sebelumnya berproduksi di Jakarta akhirnya pada “bali ndesa”, yakni mendirikan usahanya di desa.

Terjadilah perubahan itu

Sejak saat itu, kampungku kembali ramai oleh pemuda usia 13-20 tahun, tidak seperti sebelumnya. Lambat laun, jumlah bos konveksi pun bertambah [ada yang di”angkat” sama saudaranya yg udah jadi bos, umumnya sepertinya ini, atau orang-orang baru yang berpindah ke usaha konveksi].

Tingkat perekonomian di kampungku juga meningkat signifikan, secara kasat mata makin banyak yang punya mobil, jumlah haji bertambah, dan beberapa dampak positif lainnya.

Tapi, perubahan ini juga membawa dampak negatif yang sering dikeluhkan oleh para tetua, dan mereka yang perhatian tehadap masalah akhlak. Makin banyak ditemukan remaja yang pake anting, mabuk, dan kenakalan remaja lainnya. Beberapa bahkan udah mulai main di diskotik [emang terasa godaannya besar, masih muda dan kaya…].Tapi itu bagi mereka yang sudah “berhasil”, bagi yang belum kadang suka pada minder.

Hal lain yang dikeluhkan adalah, remaja lebih susah untuk diajak ngaji ataupun sekolah ke jenjang lebih tinggi. Intinya terjadi perubahan nilai-nilai di masyarakat.

Kembali pada Mas Karnoto

Mas Karnoto termasuk mereka yang berhasil merintis usaha dari nol [from zero to hero gitu lah…], sejak lulus SD merantau ke Jakarta. Seperti yang lain, dimulai dari kerja pasang kancing, ngobras, sampai akhirnya njahit dan motong.

Dengan menjalani hidup penuh hemat[duitnya ditabung] dan tirakat [katanya rajin puasa senin-kamis], akhirnya Mas Karnoto bisa beli beberapa mesin,dan menjadi bos kecil-kecilan dulu[ikut bos yang lain, istilahnya mocok, ini masih di Jakarta sebelum krismon]. Kemudian Ia bisa mandiri dan lambat laun asetnya bertambah.

Alhamdulillah akhirnya ia menjadi OKB di kampungku, menjadi bos konveksi dengan anak buah yang banyak. Tapi walaupun udah jadi bos, Mas Karnoto dikenal tetep sederhana, masih suka makan botok, dll. Bahkan ia menjadi kebanggaan karena bisa menjadi salah satu urat nadi perekonomian bagi tetangga sekitar.

Mas Karnoto [dan bos konveksi lainnya yang merintis usaha dari nol], adalah sebuah kisah kerja keras…

Sejak usia 12 th telah bekerja keras[untuk mencari uang, bukan untuk aktualisasi atau sekedar mencari pengalaman/kegiatan, apalagi sekedar mengisi waktu luang], bahkan tidak jarang menjadi tulang punggung keluarga, menafkahi orang tua dan adik-adiknya.

Mereka sangat berhak, jika akhirnya kaya dan bahagia.Mereka layak dijadikan teladan, bagaimana kerja keras membawa kesuksesan.

Tapi…, ketidakpastian adalah sebuah kepastian yang pasti terjadinya, apalagi dunia usaha, selalu ada masa pasang dan surutnya. Selalu begitu…

Krisis global yang terjadi sekarang ini yang mengakibatkan lesunya perdagangan, daya beli menurun…, akhirnya membawa dampak ke kampungku. Beberapa bos konveksi terpaksa menurunkan omzetnya[berarti mengurangi anak buah],menghentikan usahanya, atau bahkan sampai menjual asetnya, dan Mas Karnoto adalah salah satunya.

Apakah mereka akan mendapatkan jatah stimulus dari pemerintah? Boro-boro…

Diperhatikan pun saya tidak yakin, padahal merekalah aktor ekonomi riil yang selama ini menjadi urat nadi perekonomian masyarakat.

Apakah anggota legislatif yg baru terpilih akan memperhatikan mereka?semoga…

[saya terdiam, ikut bersedih ketika Mbak Puji, atau Ipung menceritakan fenomena ini, bahwa banyak temen-temen yang menstop usahanya, padahal inilah sumber utama pemasukan mereka, bagaimana juga dengan tukang jahit dan keluarganya, sedang kebutuhan dan harga-harga makin meningkat].

Mereka telah merintis usaha dari nol…, dan sekarang harus mengalami kenyataan yang diluar kontrol mereka, krisis global…

Tapi saya yakin, mereka adalah para pekerja keras, mereka adalah orang-orang yang tak kenal menyerah.. Kegagalan hari ini, adalah ujian untuk menggapai anak tangga kesuksesan yang lebih tinggi.

Ya, karena mereka tak bisa menyerah…, pasti mereka tak akan bisa kalah.

Mereka pasti akan selalu MENANG!

tetap semangat…

sampai nanti,

sampai mati”

[Letto]

Iklan

Entry filed under: rehat sejenak.... Tags: , .

Nasib Manohara dan Cinderella Makanan Enak Vs Makanan Sehat….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


April 2009
S S R K J S M
    Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Blog Stats

  • 34.623 hits

%d blogger menyukai ini: