Koalisi Politik ala Kimia

April 21, 2009 at 7:11 am 3 komentar

Koalisi politik hari-hari ini menjadi kosakata yang mewarnai media massa, dari Golden Triangle, Golden Bridge atau blok S, blok M, dan blok alternatif. Sama kondisinya seperti th 2004 lalu, ada Koalisi Kebangsaan dan Koalisi Kerakyatan, atau Poros Tengah pada 1999 yang menghantarkan Gus Dur ke kursi RI 1. Sepertinya koalisi merupakan sebuah keniscayaan dalam kehidupan berpolitik di era demokrasi.

Di bidang Kimia, wabil khusus Kimia Organik dikenal mata kuliah Sintesis Kimia Organik, yang mempelajari tentang proses sintesis suatu senyawa target tertentu dengan menggabungkan senyawa-senyawa yg lebih sederhana.

Secara filosofis, proses sintesis ini adalah proses koalisi antar senyawa membentuk molekul target yang diinginkan, dikatakan berhasil jika mampu menghasilkan rendemen 80-85 % dengan tingkat kemurnian tinggi. Sintesis adalah seninya kimia organik, karena di sini dicreate suatu senyawa.

Stuart Warrent, mempopulerkan metode disconnect approach untuk proses sintesis ini. Dimulai dengan menentukan molekul target, kemudian dilakukan analisis sintesis balik atau retrosintesis, yaitu membuat jalur-jalur reaksi yang memungkinkan terbentuknya molekul target, dengan melibatkan sinton-sinton[senyawa penyusun, baik bermuatan parsial + atau -] yang tepat. Beberapa hal yang perlu diperhatikan :

  • Molekul target seperti apa yang akan dibentuk[ini paling penting], apakah senyawa ini akan digunakan sebagai surfaktan, emulsifier, antioksidan atau fungsi lainnya. Gugus fungsi utama biasanya akan mempengaruhi karakter senyawa.

  • Pemilihan sinton dan senyawanya.

  • Reaksi kimia yang terlibat, perlu diperhatikan faktor kinetika dan termodinamikanya.

  • Biaya yang diperlukan dan ketersediaan senyawa yang dibutuhkan.

Akhirnya harus dipilih yang efektif dan efisien untuk terbentuknya senyawa target.

Sebagai sebuah seni, proses sintesis ini memerlukan basic pengetahuan yang kompleks dan komplit, juga imajinasi yang kuat.

Kembali ke koalisi politik menjelang pilpres, sebagai rakyat kita berharap [terutama kepada yg berpeluang besar menang], koalisi politik yang dipilih akan pro-rakyat.

Belajar dari metode disconnect approach, hal yang penting dari koalisi antara lain:

  • Pemerintahan yang akan dibentuk, seperti apakah? Ramping, gemuk, mengakomodasi semuanya, atau zaken cabinet? Bagaimana performance dan keberpihakan para menteri, apakah akan professional dan pro-rakyat? Bagaimana programnya? Harus dianalisis dulu bagaimana kondisi riil bangsa kita. Pemerintahan yang akan dibentuk harus mampu menjawab dan menyelesaikan permasalahan bangsa kita.

  • Parpol yang terlibat dalam koalisi. Perlu dicermati bagaimana DNA parpol dan elit parpolnya dengan mempelajari track recordnya selama ini. Hati-hati dengan yang DNA-nya jelek atau sering salah mentranskripsi program pemerintah.

  • Chemistry koalisinya berdasarkan apa? Ideologi, program, atau hanya sekedar yang penting menang, sehingga tak aneh jika yang dulunya musuh tiba-tiba menjadi kawan. Tidak salah…karena politik memang dunia yang mengharuskan pemainnya realistis dan seringkali pragmatis, tapi…gimana ya?

  • Political cost. Semakin sehat dan bersih dunia politik di tanah air, maka political cost pun akan semakin low, dan sebaliknya.

Kita tunggu saja…koalisi seperti apa yang akan dibentuk pada pilpres kali ini. Bagaimana koalisi di blok S, blok M, atau blok alternatif? Apakah sekedar bagi-bagi kue, karena politik adalah power sharing dan take & give?

Kepada Pak SBY… semoga memilih kawan koalisi dengan baik.

Memang pileg kemarin PD mendulang suara sampai 20%…,tapi hati-hati, mengutip pernyataan Eep Saefulloh Fatah “ statistika politik dalam pileg kemarin menyatakan 20% mendukung SBY, tetapi juga berarti ada 80% yang menolak SBY”, belum ditambah yang kemarin golput.

Ojo dumeh…nanti terlena.

Iklan

Entry filed under: politik. Tags: , .

Antara Orang Minang, Sunda, dan Jawa …sebuah steorotip Mereka

3 Komentar Add your own

  • 1. Fadhilatul Muharram  |  April 21, 2009 pukul 7:33 am

    hebat, bisa menghubungkan politik dgn kimia..

    salam kenal,,

    Balas
    • 2. wahyu2005  |  April 22, 2009 pukul 5:57 am

      sebenarnya idenya dari Bu Ati, pas kuliah S1 dulu, dan saya ingin menuliskannya…
      salam kenal juga

      Balas
  • 3. hermanyudiono  |  Mei 3, 2009 pukul 6:45 am

    Mantap bro…Memang filosofi Kimia banyak relevansinya dengan kehidupan sehari-hari. Contoh lain adalah molekul kimia yang berbentuk bola sepak. Mau tahu lebih lanjut, baca saja di link berikut: http://hermanyudiono.wordpress.com/2009/04/30/mengenal-buckminsterfullerene-penemuan-dan-dampak-buckminsterfullerene/

    Salam kenal dari belantara Sorowako SulSel,
    Kang Yudhoyono, eh salah Kang Yudiono (nama mirip, tapi beda nasib ya 🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


April 2009
S S R K J S M
    Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Blog Stats

  • 34.623 hits

%d blogger menyukai ini: