Wafatnya Mbah Kaji

April 20, 2009 at 3:11 am Tinggalkan komentar

Mbah Kaji Muslih…biasa kami memanggilnya. Seorang Kyai NU yang sangat kami [warga desa Karangsari dan sekitarnya] cintai dan hormati. Suaranya lembut, tapi mampu menyentuh hati. Beliau adalah gurunya para guru ngaji di kampungku, seperti Almarhum Pak Andi Hakim Nasution bagi civa IPB.

Ramadhan 2008 kemarin, sekitar tanggal 15-17 [tepatnya aku lupa], Mbah Kaji Muslih meninggalkan kami untuk selama-lamanya, menemui Sang Khaliq. Mendung terasa mewarnai segenap jiwa. Tak ada yang tidak kehilangan, karena beliau adalah bapak, syaikh, dan pemimpin kami.

Rasanya belum lama, waktu beliau menasihati kami…santri-santri Masjid Asy Sya’ban agar tidak saling berkelahi. Saat itu aku masih SD kelas 4[atau kelas 5], terjadi perkelahian antara beberapa anak SD [SDN 1 Karangsari] dan anak MIS [Madrasah Ibtida’iyah Salafiyah] sampai ada yang terluka terkena lemparan batu, biasa saling mengejek sebelumnya. Malam itu, setelah sholat Maghrib kami dinasihati…, semua kami menunduk, apalagi para pelaku, dan kami didamaikan.

Mbah Kaji adalah tokoh panutan bagi kami, apa kata beliau pasti didengarkan masyarakat. Tapi hal ini bukanlah seperti yang dikatakan oleh para pengamat sosial tentang kultur NU, bahwa warga NU bersikap yesman, sami’na wa atho’na, dan cenderung taqlid, selalu membenarkan kyainya, walaupun kyai itu salah. Tidak…sungguh tidak. Cinta dan ketsiqohan kami kepada beliau, adalah buah dari keikhlasan, ketinggian ilmu, kebaikan akhlak, dan dakwah yang beliau lakukan sepanjang hayatnya. Sebuah kesabaran, dan keistiqomahan yang teruji.

Ba’da Shubuh 10 hari terakhir Ramadhan…, dipimpin Ustadz Miftah [putra almarhum Mbah Kaji yang meneruskan perjuangan dakwah beliau], kami[+ 10 orang]membacakan Al Qur’an untuk dihadiahkan pahalanya kepada almarhum Mbah Kaji, masing-masing 1 juz.

Aku bersyukur diajak Mas Karyoto untuk ikut “tradisi hasanah” ini, bagiku adalah sebuah proses tarbiyah…sebuah wisata ruhani. Ba’da sholat Shubuh di bulan Ramadhan, membaca Al Qur’an 1 juz dengan sepenuh jiwa dgn berjamaah di kuburan, dilanjutkan do’a. Ini adalah training jiwa bagiku, dzikrul maut, sebuah perjalanan hati yang mengajak kita untuk selalu mengingat asal muasal kita, mengingat hakikat kehidupan, bahwa dunia itu fana sedang akhirat abadi.

Rabbana …

wafatkan dan hidupkan kami dalam Iman dan Islam,

syahidkan kami di jalan Mu. Amin.”

Selamat Jalan Mbah Kaji…

Iklan

Entry filed under: rehat sejenak.... Tags: .

Ilmuwan, Pengusaha, dan Politisi Antara Orang Minang, Sunda, dan Jawa …sebuah steorotip

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


April 2009
S S R K J S M
    Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Blog Stats

  • 34.623 hits

%d blogger menyukai ini: