IKHLAS (1)

April 5, 2009 at 3:34 pm Tinggalkan komentar

Allah memiliki hamba-hamba yang bijaksana
Mereka ceraikan dunia karena takut bencana
Mereka merenung dan sadar
Dunia hanya sementara
Dunia ibarat samudera
Amal shalih adalah perahunya

(Mukaddimah Riyadhus Shalihin Imam Nawawi r.a)

Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra. Berkata,
“Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Segala amal perbuatan bergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan (pahala) apa yang diniatkannya. Barang siapa berhijrah (ke Madinah) untuk mencari ridha Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa berhijrah untuk mencari harta dunia atau untuk seorang perempuan yang hendak dinikahi, maka hijrahnya hanya untuk itu (tidak mendapatkan pahala di sisi Allah).”’ (Muttafaq’alaih)
Pelajaran Hadits
1.Para ulama sepakat bahwa niat adalah syarat mutlak agar suatu amal diganjar atau dibalas dengan pahala. Namun apakah niat merupakan syarat sahnya suatu amal atau perbuatan, mereka berbeda pendapat. Ulama Syafi’iyah menyebutkan, “niat adalah syarat sahnya suatu amal atau perbuatan yang bersifat ‘pengantar’ seperti wudhu, dan yang bersifat ‘tujuan’ seperti sholat.”
Ulama Hanafiyyah menyebutkan, “niat hanya syarat sahnya amal atau perbuatan yang bersifat ‘tujuan’ dan ‘bukan pengantar’.”
2.Niat dilakukan di hati, dan tidak ada keharusan untuk diucapkan
3.Ikhlas karena Allah merupakan salah satu syarat diterimanya amal atau perbuatan.
Hadits ini sangat terkenal di kalangan umat Islam dan seringkali dijadikan pembuka dalam ceramah-ceramah, tidak salah, karena hadits ini memuat hal yang sangat essensi dalam kehidupan kita yakni “niat dan keikhlasan”. Dua hal yang berkaitan erat dengan eksistensi kita sebagai manusia yang memiliki peran :
1.Sebagai hamba Allah (“tidaklah Ku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk menyembahKu” QS. 51:56)
2.Sebagai Khalifatullah fil Ardh/Pemakmur bumi (Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”…QS.2:30)
Sehingga pemahaman akan hadits ini akan berpengaruh signifikan terhadap aktifitas kehidupan kita.
Ustadz Hasan Al Banna dalam Risalah Ta’lim mengungkapkan makna Ikhlas sbb:
Yang kami kehendaki dengan ikhlas adalah bahwa seorang al-akh muslim dalam setiap kata-kata, aktivitas, dan jihadnya, semua harus dimaksudkan semata-mata untuk mencari ridha Allah dan pahala-Nya, tanpa mempertimbangkan aspek kekayaan, penampilan, pangkat, gelar, kemajuan, atau keterbelakangan. Dengan itulah ia menjadi tentara fikrah dan aqidah, bukan tentara kepentingan atau pribadi.
“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan Aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)” QS Al An’am :162-163.
Ya Allah ajari kami untuk ikhlas kepada Mu
Ikhlaskanlah hati kami
Jadikan kami termasuk golongan hamba Mu yang ikhlas. aamiin
Referensi :
1.Said Al-khin, Mustofa, et al.2005. Syarah dan Terjemah Riyadhus Shalihin jilid 1.Jakarta: Al-I’thisom
2.Al Banna, Hasan.2005.Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin 2 (terjemahan).Surakarta: Era Intermedia

Iklan

Entry filed under: taushiyah.

PESAN Sms Tahajud

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


April 2009
S S R K J S M
    Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Blog Stats

  • 34.623 hits

%d blogger menyukai ini: