Posts filed under ‘buku & sastra’
Puisi Terakhir WS Rendra
Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal
Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar
Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi
Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah
Tuhan, aku cinta padamu
(lagi…)
Michael Jackson
Bogor.27/06/2009
Jum’at sore kemarin pas mau kirim sampel DNA titipan Pak Budi [Lab CBRG Biotek LIPI] di kantor Fed Ex Bogor, TV sedang menyiarkan berita kematian “Mikaeel” nama Michael Jackson setelah memeluk Islam. Teringat kembali ketika Lady Diana meninggal, dunia heboh…banyak yang menangisi kematiannya. Apakah benar atau salah tangisan mereka, yang jelas keduanya adalah selebriti yang mampu menjadi trendsetter dan disukai banyak orang di planet Bumi ini.
Saya tentunya tidak layak mengaku fans Michael Jackson. Hanya satu lagunya saja rasanya yang pernah saya suka, yakni lagu Black or White, itupun gara-gara Harso temanku SMP yang suka sama si Jacko. Tapi pas melihat berita di TV itu, jujur saya turut bersedih. Inikah fitrah kemanusiaan?
Ketika Tangan dan Kaki berkata
Bogor.25/06/2009
Pagi ini, Alhamdulillah diberi kekuatan untuk bisa “menikmati” waktu pagi. Sambil mengedit tulisan sinopsis penelitian saya memutar nasyidnya Chrisye “Ketika Tangan dan Kaki Berkata”.
Subhanallah, lagu puitis yang dikarang Taufik Ismail ini sangat berasa, menyentuh sampai ke hati.
Saya pernah baca cerita dari Pak Taufik Ismail tentang lagu ini, kata beliau almarhum Chrisye minta dibuatkan lagu religi dan akhirnya terciptalah lagu ini yang terinspirasi oleh salah satu ayat dalam Surat Yasin.
Akan datang hari
Mulut dikunci
Kata tak ada lagi
EDENSOR
Bogor,15/06/2009
Edensor,…sudah lama saya baca novel ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi karya Mas Andrea Hirata ini.
Seperti kita tahu, di novel ini kita “diajak” Mas Andrea merasakan dunia kuliah di Sorbonne University yang dijalaninya bersama Arai “sang pemimpi”. Suka duka, romantika, dan atmosfir akademik di sana. Bahkan kita diajak backpacking keliling Eropa, sampai Afrika. Sebuah kisah yang pasti membuat kita gregetan pengen kesana, kuliah di sana seperti Ikal dan Arai.
Tetapi saya lebih tertarik dengan pengamatan Mas Andrea Hirata tentang “paradoks” yang terjadi di dunia Barat sana. Tentang orang-orang cerdas, berbudaya akademis tinggi, berperadaban lebih maju, namun juga berbudaya dugem, clubbing, miras, bahkan free sex. Na’udzubillah bin dzalik.
Ketika Cinta Bertasbih
Tadi sore ba’da Sholat Ashar, tak sengaja lihat tayangan behind the scene film “Ketika Cinta Bertasbih” di RCTI. Spontan muncul perasaan bangga, bahwa akhirnya film ini dibuat sesuai dengan versi novelnya. Bagaimana eksotisnya Mesir, suasana kampus di Al Azhar, dan tentunya nuansa da’wah yang lebih terasa dibandingkan ketika novel Ayat-Ayat Cinta difilmkan.
Sekilas melihat cuplikannya, kayaknya scene yang paling akan saya sukai adalah ketika Husna dan Anna menyampaikan definisi Cinta.
Definisi cinta dari Husna:
Maryamah Karpov
Setelah melanglang buana akhirnya kau pulang juga ke Belitong Ikal, no home like home. Kebahagiaanmu yang membuatku iri : berdiri di depan ortu setelah berhasil mewujudkan mimpimu ke Sorbonne.
Tapi hidup akhirnya harus berdamai dengan realita bukan? Fakta yang selalu harus dihadapi oleh para pemimpi. Seorang lulusan Sorbonne University di bidang Economic Science…, masih harus memeras ototnya untuk mendapatkan sedikit uang.
Allah Maha Adil, semua makhluk telah diberi jatah rizkinya masing-masing. Rizkimu Ikal, adalah mimpi-mimpimu yang menjadi kenyataan di saat orang lain bahkan tidak sempat bermimpi.
Laskar Pelangi
sejatinya saya termasuk orang yang telat membaca novel laskar pelangi, nonton filmnya, ataupun buat komentar di blog.
Tapi, mas andrea hirata emang berhasil mengajak kita untuk menjadi Ikal…sebagaimana kang abik menghipnotis kita dengan figur fahri di ayat-ayat cinta.
Jujur saya sangat terkesan…rasanya kita mengalami dejavu dengan masa kecil kita. Terbayang wajah tulus guru-guru yang seperti Bu Mus dan Pak Arfan.
Riri Reza juga berhasil mentransformasi novel ini ke film, sebagai reader saya tidak kecewa sebagaimana ketika AAC kang Abik difilmkan, Hanung terlalu banyak merubah scene…selain itu faktor lokasi juga sangat mempengaruhi. saya tunggu film berikutnya. Bravo untuk Laskar Pelangi…
LASKAR PELANGI (1)
Laskar pelangi…
adalah kisah tentang kita
sebagian besar anak Indonesia
karena kita adalah ikal…
yang kehilangan teman-teman jenius didikan alam
yang memiliki guru-guru seperti Bu Mus dan Pak Arfan
Guru yang ikhlas, mencintai dan menginspirasi muridnya
Karena kita adalah ikal…
yang memiliki mimpi
dan tak takut bermimpi
Laskar pelangi…
adalah kisah tentang kita
sebagian besar anak Indonesia
karena kita adalah lintang…
yang dikaruniai Ar Rahman potensi kecerdasan
dan alam yang tak pernah lelah mengajari
LASKAR PELANGI (2)
Kepada ikal dan lintang…
Akhirnya aku berani bermimpi…seperti kalian berani bermimpi
Telah kutulis mimpi itu di lembaran hati
Telah kutulis mimpi itu dalam munajat-munajatku
Aku tak akan lelah berlari mengejarnya
Aku tak akan menyerah